Dalam
keasyikannya tersebut ia melihat lelaku di sebelahnya dengan begitu berani
mengambil satu atau dua dari kue yang berada di antara mereka. Wanita tersebut
mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.
Ia
membaca, sambil memakan kuenya tersebut. Sementara si pencuri kue yang kurang
ajar itu terus memakan kue hingga menghabiskannya. Ia pun semakin kesal karena
kuenya sudah habis dimakan oleh si pencuri kue.
Wanita
itu sempat berpikir “Jika aku bukan orang baik, sudah kupukul dia!”. Setiap dia
mengambil satu kue, lelaki itu juga mengambil satu kue. Ketikan hanya tersisa
satu kue, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Lalu si lelaki
dengan dengan senyum tawa diwajahnya dan tawa gugup, dia mengambil kue terakhir
dan membaginya menjadi dua. Si lelaki menawarkan separuh kue miliknya ke
wanita, sementara separuhnya lagi ia makan. Si wanita pun merebut kue itu dan
berpikir “Ya ampun, orang ini berani sekali. Ia juga kasar dan tidak berterima
kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal.
Akhirnya
ia menghela napas lega saat penerbanganya diumumkan. Ia membereskan barang
miliknya dan menuju pintu gerbang tanpa menoleh pada “si pencuri” yang tidak
tahu berterima kasih.
Ia naik pesawat dan duduk
di kursinya, lalu mencari bukunya yang hampir selesai dibacanya. Saat ia
merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Disitu ada kantong kuenya, di
depan matanya. “Koq milikku ada disini” erangnya dengan patah hati. Jadi kue
yang ia makan di bandara bukanlah miliknya, tetapi milik lelaki yang bersedia
berbagi. Terlambat untuk meminta maaf, ia tersandar sedih.
Ia pun
tersadar, bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tidak tahu berterima kasih, dan
dia sendirilah pencuri kue itu.
Catatan : Kita seringkali menganggap diri
kita adalah lebih baik dari orang lain, tanpa mengintrospeksi apa saja
kekurangan yang kita miliki. Maka dari itu, sebelum melihat kekurangan orang
lain, periksalah diri dahulu, apakah kita sudah lebih baik?



No comments:
Post a Comment