Friday, 24 July 2015

Bernyanyilah, Karena Kamu akan Mendapatkan 7 Manfaat Ini



Bernyanyi ternyata bukan hanya sebuah kesenangan belaka. Kalau kamu suka bernyanyi, kamu akan mengerti betapa perasaanmu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kamu merasa emosimu yang terpendam kini sudah dikeluarkan semuanya. Kenapa? Nah, buat kamu yang penasaran manfaat apa saja yang kamu dapat dari bernyanyi, Bintang.com bakal kasih tahu kamu bocorannya!

#1
Ketika kamu bernyanyi, ternyata tubuhmu mengeluarkan hormon endorfin dan oksitosin. Endorfin ini ternyata bisa meningkatkan kegembiraan dan kenyamanan. Makanya usai bernyanyi kamu merasa lebih baik dari sebelumnya. 

#2
Dengan bernyanyi ternyata juga bisa menurunkan tekanan darah. Jadi buat kamu yang punya darah tinggi, banyak-banyaklah bernyanyi. Selain meningkatkan rasa nyaman dan kegembiraan, kamu bisa jadi lebih sehat. 

#3
Otot-otot wajah dan di antara tulang iga serta diafragma menguat. Karena ketika bernyanyi kamu mengeluarkan suara dari perut yang membutuhkan kerja diafragma. Kamu juga pasti harus memperhatikan artikulasi saat bernyanyi. Saat itulah otot wajahmu bekerja. 

#4
Lewat musik kamu akan lebih berempati dan memahami budaya-budaya lain. Musik menyatukan setiap manusia yang berbeda latar belakang budaya. Buktinya, kamu menyanyikan lagu-lagu berbahasa asing. Jika kamu hanya menyanyikan lagu berbahasa Indonesia pun, berarti kamu juga menghormati budayamu sendiri.  

#5
Sikap duduk atau pun berdiri ketika kamu bernyanyi enggak sembarangan. Kamu harus berdiri tegap dengan bertumpu pada kedua kaki. Dengan begitu suara yang dikeluarkan akan menjadi kuat dan bertenaga. Artikulasi juga menjadi jelas. Dengan begitu, postur tubuhmu pun ikut menjadi tegap. Kesehatan tulang punggung juga jadi meningkat. 

#6
Ketika bernyanyi, kamu mengatur nafasmu sedemikian rupa. Sehingga otot paru-parumu juga menguat. Kalau otot paru-parumu sudah terlatih, kamu akan bernafas lebih baik dan lebih mudah. Oksigen yang masuk ke dalam paru-paru dalam satu hirupan masuk ke dalam paru-paru lebih banyak. 

#7
Kamu berusaha mengingat lirik lagu. Kamu juga berusaha menyesuaikan diri dengan musik latar belakang dan tempo yang tepat. Dengan begitu, bernyanyi juga bisa meningkatkan daya ingatmu. 



Nah, itu dia manfaat dari bernyanyi. Buat kamu yang sangat suka bernyanyi, teruslah bernyanyi. Selain menyalurkan hobi, kamu juga mendapatkan 7 kebaikan di atas. 

sumber : bintang.com 

                                                         

Filosofi Layang-Layang

Layang-layang bisa terbang tinggi karena melawan angin, bukan terbawa angin. Jadi jangan terbawa masalah, lawanlah dia !

Dalam hidup ini, mungkin kita sering berkeluh kesah terhadap masalah yang datang dalam kehidupan kita. Mulai dari masalah pribadi, keluarga, hingga pekerjaan. Kita juga mungkin cukup sering mendengar curahan hati dari teman yang sedang mengalami masalah, lalu datang kepada kita ingin menceritakan masalahnya, baik untuk mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hati, atau sekalian meminta pendapat dan solusi.

Tiada manusia yang hidup tanpa masalah. Jika seorang manusia merasa tidak melihat masalah dalam kehidupannya maupun lingkungan sekitarnya, sesungguhnya ia dalam masalah yang nyata. Masalah yang dijumpai dalam kehidupan kita, tidak lain adalah cara Allah melihat amalan kita. Manakah hamba-Nya yang tetap tegar dalam kesabaran dan rasa syukur sepanjang hidupnya.

Ibarat layang-layang yang dapat terbang tinggi karena melawan angin, kualitas kehidupan kita pun akan melesat tinggi jika kita dapat mengatasi masalah dalam kehidupan kita. Juga layaknya gedung-gedung yang tinggi. Semakin tinggi suatu gedung, maka angin yang menerpanya pun semakin kencang. Dalam hidup, semakin tinggi posisi atau tingkat kehidupan kita, maka semakin banyak pula lah cobaan dan ujian yang akan menerpa kita. Maka dari itu, semuanya tergantung pada keputusan kita masing-masing, bagaimana kita dalam menghadapi dan mengatasi semua ujian tersebut. Janganlah pernah lari dan menghindari masalah, karena jika kamu lari, maka masalahmu semakin besar. Tapi hadapi dan selesaikanlah masalahmu. Jika kamu dapat menyelesaikan suatu masalah besar, kamu akan lebih mengerti dan terlatih untuk mengatasi masalah-masalah yang akan datang berikutnya.

Berpegang teguhlah kepada Islam, sebagai "tali ikatan layanganmu", laksana sebuah layang-layang yang terikat kuat. Sekencang apapun angin yang berhembus, ia tidak berlari jauh dan lenyap menghilang selama talinya terikat kuat
.



Thursday, 23 July 2015

Kisah Pencuri Kue

Ada seorang wanita yang sedang menunggu di bandara pada suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk menghabiskan waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di salah satu toko di bandara. Setelah itu ia mendapatkan tempat duduk untuk membaca buku yang baru dibelinya tersebut.
Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaku di sebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada di antara mereka. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.

Ia membaca, sambil memakan kuenya tersebut. Sementara si pencuri kue yang kurang ajar itu terus memakan kue hingga menghabiskannya. Ia pun semakin kesal karena kuenya sudah habis dimakan oleh si pencuri kue.
Wanita itu sempat berpikir “Jika aku bukan orang baik, sudah kupukul dia!”. Setiap dia mengambil satu kue, lelaki itu juga mengambil satu kue. Ketikan hanya tersisa satu kue, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Lalu si lelaki dengan dengan senyum tawa diwajahnya dan tawa gugup, dia mengambil kue terakhir dan membaginya menjadi dua. Si lelaki menawarkan separuh kue miliknya ke wanita, sementara separuhnya lagi ia makan. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir “Ya ampun, orang ini berani sekali. Ia juga kasar dan tidak berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal.


Akhirnya ia menghela napas lega saat penerbanganya diumumkan. Ia membereskan barang miliknya dan menuju pintu gerbang tanpa menoleh pada “si pencuri” yang tidak tahu berterima kasih.
Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya. “Koq milikku ada disini” erangnya dengan patah hati. Jadi kue yang ia makan di bandara bukanlah miliknya, tetapi milik lelaki yang bersedia berbagi. Terlambat untuk meminta maaf, ia tersandar sedih.
Ia pun tersadar, bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tidak tahu berterima kasih, dan dia sendirilah pencuri kue itu.




Catatan : Kita seringkali menganggap diri kita adalah lebih baik dari orang lain, tanpa mengintrospeksi apa saja kekurangan yang kita miliki. Maka dari itu, sebelum melihat kekurangan orang lain, periksalah diri dahulu, apakah kita sudah lebih baik?

Kepintaran Si Bodoh

Seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur langganannya, yang letaknya tidak begitu jauh dari kantornya. Disana dia melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan yang sedang berlari-lari dan melompat, tepat di depan toko si tukang cukur berada.
Tak lama, si tukang cukur berkata : “Itu Benu namanya pak. Dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal”.
“Masa, apa iya ?” jawab si pengusaha.
Karena ingin membuktikan ucapannya, lalu si tukang cukur memanggil si Benu ke dalam toko. Kemudian ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan selembar uang Rp 2.000 dan koin Rp 1.000. Lalu si tukang cukur menyuruh Benu memilih “Benu, kamu boleh pilih dan ambil salah satu dari uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil” kata si tukang cukur.
Benu lalu melihat ke tangan tukang cukur, disana terdapat uang Rp 2.000 dan uang Rp 1.000. Lalu dengan cepat tangan si Benu bergerak mengambil uang Rp 1.000. Setelah itu Benu pergi keluar toko lagi sambil melompat kesenangan.
Lalu si tukang cukur dengan penuh bangga (karena berhasil membuktikan kebodohan Benu), lalu melirk dan berbalik ke arah si pengusaha dan berkata :”Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak paling bodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya mengetes dia seperti itu tadi, dan dia selalu mengambil uang logam yang nilainya lebih kecil” katanya.
Setelah si pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan dia melihat si Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dilihat sebelumnya di tempat tukang cukur, si pengusaha pun memanggil Benu dan bertanya :”Benu, kenapa kamu memilih dan mengambil uang yang Rp 1.000 dari si tukang cukur tadi? Kenapa kamu tidak ambil yang Rp 2.000? padahal kan nilainya lebih besar 2 kali lipat dari Rp 1.000?” tanya si pengusaha dengan penasaran.

Benu pun tertawa kecil sambil berkata “Saya tidak akan dapat lagi Rp 1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang Rp 2.000. Kalau saya ambil yang Rp 2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari” jawab Benu sambil tersenyum.


Catatan : Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga mereka sering menganggap remeh orang lain. Orang dewasa belum tentu lebih pintar dari anak kecil. Begitupula orang yang kuliah belum tentu lebih pintar dari yang hanya lulusan SD. Bahkan kita sebagai manusia pun tidak jarang belajar dari mahluk hidup lain seperti tumbuhan dan hewan ciptaan Allah. Jangan pernah menganggap remeh seseorang dari fisik luarnya saja. Ukuran kepintaran hanya Allah SWT yang mengetahui. Alangkah lebih bijaksana jika kita tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. Di atas langit masih ada langit yang lain.

“Orang yang pintar adalah orang yang memuliakan dirinya serta mempersiapkan dirinya untuk kehidupan selepas mati, sementara orang bodoh adalah orang yang membiarkan dirinya mengikuti hawa nafsu serta mengharapkan keinginannya dikabulkan oleh Allah” (H.R at-Thirmidzi).


Tuesday, 21 July 2015

When We Child & Want To Grow Up

Saat kita masih kecil, banyak sekali hal-hal yang bisa kita lakukan. Seperti bermain bersama teman-teman, belajar dengan teman sekolah, mengaji di sore hari sepulang sekolah. Rasanya tenaga kita begitu banyak hingga ingin melakukan banyak hal tanpa mengenal lelah.
Tapi ada kalanya disaat kita melihat atau menyaksikan sesuatu, baik itu secara real atau melalui TV, kita sebagai anak kecil ingin cepat-cepat menjadi dewasa. Misalnya ada hal-hal yang membuat bosan anak kecil hingga ingin cepat melaluinya seperti terlalu banyak PR yang harus dikerjakan, belum bisa melakukan ini-itu, dan lain-lain. Dan juga ingin melakukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang dewasa, misalnya mengendarai sepeda motor, nonton di bioskop, mengendarai mobil, dan lain sebagainya. Tapi tatkala sudah dewasa, kita yang sudah dewasa ingin mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk kembali menjadi anak kecil. Karena semakin kita dewasa, tugas dan tanggung jawab yang kita pikul semakin banyak. Mulai dari sekolah, kuliah, bekerja, meningkatkan karir, menikah, menafkahi keluarga, dan banyak lagi hal-hal yang harus dilakukan oleh "orang dewasa".
Inilah hidup sebagai manusia, mahluk ciptaan Allah SWT yang mempunyai nafsu dan tidak pernah terpuaskan atas apa yang telah dicapainya.

Beberapa gambar yang cukup mencerminkan disaat anak kecil ingin tumbuh menjadi orang dewasa :

1. Disaat masih anak-anak, menemukan uang 10 ribu saja sudah sangat senang. Tapi disaat dewasa, berapapun uang yang sudah kita dapatkan, akan selalu terasa kurang.

2. Disaat masih anak-anak, kita mengikuti berbagai kegiatan ekstrakulikuler dan rasanya masih ingin ada kegiatan lain. Tapi sudah dewasa, kita selalu merasa sibuk dan kekurangan waktu.

3. Disaat masih anak-anak, senang sekali telah memiliki 4 teman yang selalu bermain bersama. Tapi disaat dewasa, 500 teman di sosial media lebih penting dan itupun masih merasa kurang.

4. Disaat masih anak-anak, rasanya kita sudah tidak senang untuk pergi ke sekolah. Alasanya gurunya tidak suka lah, dan lain-lain, sehingga ingin cepat bekerja dan menghasilkan uang. Tapi sudah dewasa, tidak suka dengan pekerjaannya. Alasannya bosnya tidak suka padanyalah, dan merindukan masa-masa sekolah dulu.

5. Disaat anak-anak, suka merasa bahwa orang tua itu menjengkelkan, karena mereka tidak bisa mengerti perasaan kita disaat masih anak-anak. Tapi disaat dewasa, mereka akan mengerti bahwa orang tua adalah yang terbaik yang telah mengajarkan segalanya pada kita.

6. Disaat anak-anak, jika kita sudah suka dengan 1 mainan, kita akan terus menjaganya bahkan hingga mainan tersebut rusak. Tapi disaat dewasa, kita akan lebih mudah bosan akan sesuatu. Terlebih di jaman digital seperti sekarang ini, memiliki sebuah iphone baru akan sangat menjadi kebutuhan dan iphone atau smartphone lama pun ditinggalkan.

7. Disaat anak-anak, kita memiliki keinginan yang sangat besar hingga tak terbatas. Itu karena kita adalah anak-anak, yang memiliki imajinasi tertinggi dibanding tingkat umur manapun. Tapi disaat dewasa, imajinasi kita perlahan menurun. Keinginan kita pun juga menurun, sehingga semangatnya pun ikut turun.

8. Disaat anak-anak, kita seperti memiliki energi yang tak habis-habis, hingga bermain lari-larian tanpa kenal lelah. Tapi disaat dewasa, rasanya ingin segala sesuatu lebih praktis dan otomatis.

9. Disaat anak-anak, kita hampur tidak mempedulikan penampilan kita. Bahkan jika rambut kita dibotakin sekalipun, kita tidak peduli. Tapi disaat dewasa, salah sedikit saja potong rambut, boring-nya setengah mati..

10. Disaat anak-anak, mainan apa yang kita miliki terasa sudah sangat bagus sekali. Seperti nintendo, gameboy, dan lain-lain. Tapi disaat dewasa seiring perkembangan jaman, jaringan 3G dirasa sangat lamban untuk mengakses internet.

11. Disaat anak-anak, keseluruhan hari adalah waktunya bermain, tidak peduli siang ataupun malam. Tapi disaat dewasa, rasanya kita hanya memiliki hari bebas di weekend saja, karena Senin-Jumat sudah disibukkan dengan pekerjaan.

12. Disaat anak-anak, bermain diluar rumah adalah suatu kebahagiaan. Bisa bermain ditaman, melihat indahnya alam. Tapi disaat dewasa, rasanya lebih nyaman di dalam rumah dan menghabiskan waktu untuk tidur dan bermain dengan smartphone-nya.

13. Disaat anak-anak, kita memiliki energi tiada batas hingga ingin melakukan segalanya tanpa lelah. Tapi disaat dewasa, kita hanya ingin melakukan "bekerja saja" yang diutamakan, untuk hal lain akan dipertimbangkan.

14. Disaat anak-anak, ingin cepat-cepat menjadi orang dewasa. Tapi disaat dewasa, suatu waktu ingin kembali merasakan menjadi anak-anak.

Pada intinya adalah, lakukan terbaik mulai saat ini, karena waktu takkan bisa terulang 0.1 detik pun. Dan syukuri apa yang telah engkau dapatkan. InshaAllah hal baik akan terjadi pada kita semua. Aamiin

Rokok

GURU : “Syeikh, menurut saya rokok itu tidak haram.”
Syeikh : “Kenapa?”
Guru : “Tak ada dalilnya. Saya ingin tahu, satu ayat saja yang menyebutkan ‘diharamkan atas kalian rokok’.”
Syeikh : “Apakah Anda makan jeruk, apel, maupun pisang?”
Guru : “Iya.”
Syeikh : Apakah” ada ayat yang menyebutkan bahwa jeruk, apel maupun pisang itu halal?”
Guru : “Tidak ada.”
Syeikh : “Bagaimana tidak ada, bagaimana Al Qur’an tidak menyebutkan mana yang halal dan mana yang haram, padahal Qur’an itu pedoman umat. Coba perhatikan firman Allah Ta’ala dalam surat al-A’raf : (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan MENGHALALKAN bagi mereka segala yang BAIK dan MENGHARAMKAN bagi mereka segala yang BURUK..(QS al A’raf 157).”
“Maka segala yang baik semisal daging, jeruk, apel, susu dan lain lain itu termasuk yang baik-baik sehingga termasuk yang dihalalkan. Adapun yang buruk-buruk, maka Allah mengharamkannya.”
Guru : “Menurut kami, rokok itu termasuk thayyibaat (yang baik-baik), meskipun menurut Anda tidak baik.”
Syeikh : “Anda punya istri?”
Guru : “Ya…”
Syeikh : “Anda punya anak?”
Guru : “Ya …”
Syeikh : “Jika kaulihat anakmu mengunyah permen, apakah kamu ridha?”
Guru : “Ya, tidak masalah…”
Syeikh : “Kalau kaulihat anakmu sedang menghisap rokok, apakah kamu ridha?”
Guru : “Tidak…”
Syeikh : “Kenapa?”
Guru : “Karena itu tidak baik (yakni termasuk sesuatu yang buruk).”
“Jika itu sesuatu buruk, bukankah masuk yang haram? Bagaimana pula jika yang merokok itu istrimu?”

Tiba-tiba sang guru mengeluarkan bungkusan rokok dari sakunya, ia meremas dengan tangannya lalu menginjak dengan kakinya, lalu ia berkata, “Mulai sekarang wahai Syeikh, saya bertaubat kepada Allah dari rokok.”